Sunday, September 30, 2018

the day I break down and cry

Bombastis ya judulnya? Lebay sih, tapi itu yang saya rasakan hari ini.

Sejak pertama kali tahu saya hamil lagi, bukan kegembiraan yang pertama kali saya rasakan selayaknya orang hamil lainnya. Saya panik, saya takut. Secara finansial, kami jauh dari siap untuk punya anak kedua. Selain itu, saya tahu bahwa bulan September tahun ini adalah bulan yang berat untuk kami sekeluarga. Marcel akan melalui fase besar dalam usahanya. Dia perlu dukungan moril saya sepenuhnya. Sedangkan saya tidak siap harus mendukung dia 100% saat keadaan emosi saya  sendiri sedang dipermainkan hormon pasca melahirkan. Saya juga perlu dukungan karena secara psikologis saya lemah sekali. Belajar dari pengalaman melahirkan Miles sebelumnya, saya mengalami baby blues sampai pada satu titik terpikir untuk melempar Miles saja. Saya lelah, saya merasa hidup saya direnggut, saya merasa "dipaksa" melepaskan semua cita-cita dan ambisi saya dan menjadi sapi perah untuk Miles. Gila ya bisa berpikir seperti itu? Well, terserah anda. Tapi itu yang saya rasakan, saat itu, dulu.

Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Bulan demi bulan berlalu dan tibalah saat saya melahirkan. Sebelumnya saya persiapkan segalanya yang saya bisa demi menghindari baby blues. Saya cari 2 ART karena pikir saya, dulu saya baby blues karena terlalu capek dan kesepian. Saya juga sudah besarkan hati dari jauh-jauh hari bahwa tidak apa-apa Marcel fokus ke usahanya dulu. Toh itu juga untuk keluarga.

Sampai hari ini, saya meledak. Semua ketakutan yang saya bayangkan beberapa bulan lalu terjadi. Semua karena jahitan csect saya yang terbuka. Tidak besar, tapi mulai bernanah. Saya sedih karena merasa keadaan lah yang membuat ini semua terjadi. Saya takut luka ini harus dibuka dan dijahit lagi. Saya pun tiba-tiba kesal sekali dengan semuanya. Mengapa harus hamil tahun ini? Mengapa Marcel jarang menemani saya? Mengapa Miles susah sekali mengerti kalau saya belum boleh menggendong dia, apalagi sambil naik turun tangga? Lalu yang terakhir saya kesal dengan diri saya sendiri, mengapa saya bisa berpikir sekeji itu?

Tidak ada satupun dari anak saya yang minta dilahirkan kedunia. Saya yang membawa mereka kesini.  Marcel juga bukannya sengaja pulang malam setiap hari, saya tahu betul dia juga lelah dan ingin lebih sering ada di rumah. Tapi memang keadaan memaksa dan saat ini, semua itu belum bisa. Miles, saya paham betul apa yang dia rasakan. Dia takut kehilangan saya, dia mencari perhatian saya. Dan itu wajar, apalagi baru 2 tahun usianya.

Saya sendiri tidak tahu lagi harus bagaimana sekarang, cuma bisa berharap kalau menuliskan semuanya akan membuat saya merasa sedikit lega. Semoga. Karena suami dan anak-anak saya perlu istri dan mama mereka, segera.

Friday, July 20, 2018

Ketakutan

Tanpa terasa kehamilan saya sudah hampir memasuki bulan kedelapan. Bener-bener ga berasa lho, kalau dulu waktu hamil Miles tiap hari ngecekin Apps Pregnancy Plus, sekarang boro-boro, seminggu sekali aja kadang engga. Hihihi

Puji Tuhan, setelah drama mual-muntah-lemas-tak berdaya selama TM 1, kehamilan kedua ini terbilang cukup lancar dan tanpa kendala. Saking saya biasa saja, banyak orang yang nggak ngeh kalau saya lagi hamil. Baru beberapa hari ini beberapa orang yang papasan dengan saya berkomentar "Oh, lagi hamil lagi toh, kemarin kirain cuma gemukan aja". Oh well.


Tapi memang baru beberapa minggu ini saya "berasa hamil". I mean, dari dulu juga tau sihh lagi hamil. Cuma baru sekarang the reality kicks in kalau in a few weeks there will be an additional family member. Turning point-nya klo ga salah pas weeks ke 28, baca article dimanaaa gitu, trus ada kata-kata "the baby is ready to pop at anytime right now" OMG. I'm not ready!


Sebenernya, kalau soal barang-barang mungkin gausah pusing ya karena masih bisa pakai barang-barang Miles dulu. Ranjang, stroller, selimut, baju bedong semuanya masih bisa dipakai. Yang bikin saya stress adalah lebih ke pengalaman-pengalaman berat yang sudah saya lewati dengan Miles dulu harus saya ulang kembali dengan Baby No. 2 ini. Apa aja tuhh?

Nomor satu, operasi caesar. Waktu Miles dulu, saya keburu kontraksi (yang sakitnya setengah mati itu), jadi ketika disuntik epidural di tulang belakang, saya sudah ga berasa sakit sama sekali. Terus bekas jahitan operasi saya juga surprisingly masih manageable sakitnya. Bahkan saya sudah bisa pulang di hari ketiga. Nah, gimana kalau pas Baby No. 2 brojol, suntiknya dan bekas jahitnya sakit?? Atau lebih parahnya, gimana kalau saya sampai (amit-amit) meninggal saat operasi?? (oke, ini berlebihan, tapi tensi tinggi saat kontrol kemarin bener-bener bikin saya kepikiran takut pre-eclampsia). Marcel mana bisa ngurusin Miles, Baby No. 2, rumah dan bengkel sendiriaaannnnnn.

Okelah, itu lebay ya ga usah dipikirin. Terus lanjut ke drama menyusuinya, ketika air susu belom keluar trus tetikedi dipencet-pencet tanpa ampun sama suster. Atau ketika air susu udah keluar, tapi baby masih belajar latching. atau ketika dia sudah pintar latching, terus dia growth spurt sampe puting lecet parah. Atau ketika dia kolik dan nangis non stop sepanjang malam. Atau saat dia susaaaaah banget minum air putih, ga pup 6 hari. Atau sebaliknya, waktu dia pup dan muntah tak henti sampai harus dirawat di rumah sakit. Ya Tuhan, banyak sekali drama yang menanti di depan.


Please, please jangan sampai punya anggapan saya ga bersyukur dan ga sayang dengan Baby No. 2. Sebagai anak kedua, saya juga sadar kalau kadang orang tua suka ga sadar lebih sayang sama anak pertamanya. Kayak cinta pertama gitu kali ya. 

Baby No. 2 kalau nanti kamu besar lalu randomly menemukan blog mama yang absurd ini, please harus ingat mama sayang kalian berdua equally. Walaupun kamu tendang mama seharian dari siang di kantor sampai sudah baringan di ranjang. Mama senang sekali kamu aktif dan sehat. Kayaknya kamu lebih galak ya dari pada Koko Miles.

Cannot wait to meet you Baby No. 2. Kita jalanin sama-sama ya rentetan drama di depan. Jangan cuma berdua, Papa dan Koko Miles juga harus kita ikut sertakan. Mama gak mau bergadang sendirian.


Saturday, April 07, 2018

Menyapih Miles - How We Finally Did It

untuk membuat anak ini "sleeping like an angel" harus melewati perjalanan panjang "screaming like a devil" LOL



Kalau soal konsistensi blogging, saya mengaku bahwa saya paliiing payah. Blog ini rasanya diupdate cuma setahun sekali. Padahal komitmennya, paling tidak satu bulan harus posting satu kali. *shame*
Khusus untuk topik ini, saya merasa harus sangat wajib posting. Mengapa? Bukan, bukan karena saya pingin sombong sudah bisa tidur at least 6 jam penuh tiap malam *kibas rambut


Tapi karena saya merasa amat sangat terbantu dengan teman-teman lain yang sudah meluangkan waktu untuk sharing pengalaman mereka menyapih, and I think it’s time for me to pay it forward. Siapa tahu, suatu hari post ini bisa berguna bagi seseorang karena menyapih itu berat dan penuh drama jendral! *well, buat saya sih*

Sejak umur 15 bulan (kalau ga salah) sebenarnya saya sudah mulai campur ASI dengan susu pasteurisasi. Jadi Miles hanya minum ASI kalau malam dan weekend saat saya sedang di rumah. Kenapa ga langsung via botol juga kalau malam/weekend? Karena botolnya dilempar kalau ada saya. Pokonya buat Miles, selama ada Mama ngapain nenen di botol. Oh dan somehow si Miles ini tau kalau udah malem itu waktunya sama mama dan nenen. Jadi dulu sebelum disapih, kalau jam 8-9 gitu dia udah rewel nyariin saya. Se-ngantuk apapun, dia ga bakal tidur sebelum ketemu saya (dan of course, nenen). Jadi ga ada tuh istilahnya bisa pulang atau pacaran malem-malem sama suami.

Nah jeleknya, karena siang jarang ketemu mama (dan nenen) akibatnya si Miles bisa semaleman nenen (atau ngempeng). Kalau nenenya dilepas, dia akan kebangun-bangun terus sepanjang malam. Alhasil, saya sakit badan dan masuk angin terus. Saya juga khawatir kualitas tidur dia jadi terganggu, padahal anak-anak itu kan tumbuh paling pesat saat tidur kan?

Sebenarnya alasan saya yang ga bisa pulang malam dan Miles yang hobi ngempeng semaleman itu masih bisa saya abaikan, saya juga ga ada rencana untuk menyapih Miles di umur dia yang baru 18 bulan (waktu itu). Sampai suatu saat saya tahu kalau saya hamil lagi (!!). Dokter bilang sih gak apa menyusui saat hamil, produksi ASI saya juga masih cukup banget. Tapi hamil kali ini saya merasa lebih berat (dan menderita). Saya sering sekali merasa mual dan muntah. Bayangkan sampai jam 3 pagi saya bisa terbangun karena tiba-tiba merasa mual dan pingin muntah. Akhirnya, saya dan Marcel sepakat untuk menyapih Miles sekaligus sleep training Miles.
Sebelum akhirnya berhasil, saya dan Marcel sudah mencoba melakukan beberapa cara:

1.       Miles bobo sama Papa di kamar sendiri
Jadi setelah cuci tangan kaki dan sikat gigi, Miles langsung masuk kamar dia sama Papanya sementara saya ngumpet di kamar saya. Diajak main, baca buku, nonton youtube dll. Disiapin susu di botol juga kalau-kalau dia mau. Hari pertama anaknya masih seneng (pokonya selama belom liat mama dia masih happy lah), tapi tidurnya jadi malem banget. Udah dikasih nonton youtube, dibikin cape, tetap juga ga mau tidur. Akhirnya tidur setelah Marcel gendong. Itupun ga bertahan lama, cuma 2 jam abis itu dia kebangun nangis heboh dan nyari saya.
Cara ini gagal untuk saya karena:
§  Marcel kecapean harus bangun tiap 2 jam dan nidurin Miles lagi (yang makin malem makin susah        ditidurin balik karena pingin sama mama). Sementara besok pagi dia harus berangkat kerja lagi.
§  Marcel juga ga betah tidur di kamar Miles karena ranjangnya sempit (dan jauh dari saya, hahaha)


2.       Miles bobo sama Mama, lalu ditinggal di kamar sendiri

Setelah mencoba cara pertama selama 2 hari dan gagal (plus Marcel masuk angin), saya pikir okelah ga usa langsung nyapih, kita sleep training dulu. Jadi setelah cuci tangan kaki dan sikat gigi, kita bertiga main di kamar Miles. Begitu dia ngantuk, saya kasih nenen sampai dia tertidur. Begitu dia tertidur, kita pindah  ke kamar sendiri. Logika kami berdua saat itu, kalau siang Miles bisa bobo tanpa saya, harusnya malam juga bisa. Jangan-jangan dia kebangun karena “cium bau nenen” jadi merasa harus nenen.

Hari pertama berjalan lancar! Miles tidur walaupun agak malam. Setelahnya kami bisa nonton Netflix dikamar tanpa harus di mute (hooray!) dan ngobrol kayak orang dewasa selayaknya hahaha.. Tapi sekitar 3-4 jam setelah dia tidur, Miles kebangun teriak2 (kita juga siapkan baby monitor di kamar Miles), dan susah banget ditidurin kecuali dikasih nenen lagi. Kalau gitu kan jadi ga menyelesaikan masalah apa-apa ya. Judulnya jadi cuma pindah tidur aja.

Cara ini juga ditentang oleh Mertua karena Miles sudah bisa buka pintu sendiri dan takut dia turun tangga sendiri. Sedangkan kalau pintu dikunci dari luar, takut kita berdua kebablasan tidur dan ga denger dia nangis.

Cara ini gagal untuk saya, karena:

§  Miles tetap minta nenen sepanjang malam
§  Ada kekhawatiran meninggalkan Miles tidur sendirian

3.       Oles Lemon ke Payudara

Karena lelah jiwa raga dengan dua cara menyapih sebelumnya, akhirnya saya memutuskan untuk mengoleskan lemon saja ke payudara (maaf ya AIMI, WWL itu melelahkan, haha). Teman saya bilang, dia pakai cara ini berhasil dalam waktu 3 hari saja! Lalu apakah saya berhasil juga? Well, untuk sementara iya. Miles berhasil ga nenen sepanjang siang selama weekend. Tapi begitu jam tidur, dia mulai cranky dan akhirnya dia lep juga itu nenen walaupun sambil merem melek keaseman. Hahaha!
Cara ini gagal untuk saya, karena: Keinginan nenen Miles lebih besar daripada ketidaksukaannya dengan rasa asyem.


How we did it

Setelah menempuh ketiga cara tersebut dan masih gagal juga, akhirnya saya dan Marcel memutuskan untuk berhenti mencoba. Sampai suatu hari saya gemas berat Miles yang gak kunjung bertambah, makannya juga makin susah. Dari beberapa cerita menyapih yang saya baca, biasanya anak jadi lebih lahap makan setelah disapih. Okelah akhirnya kami coba lagi, demi kebaikan Miles dan kewarasan Mama Papanya.

Dari trial 1-3 yang gagal itu ada beberapa kesimpulan yang kami ambil:
1.  Miles cukup keras pendirian
2.  Miles gak belum bisa tidur sendiri
3.  Tears is inevitable
4.  Baik saya dan Marcel ga ada yang betah tidur di kamar Miles (hahaha)


Akhirnya kami putuskan bahwa Miles akan tetap tidur bersama kami. Tapi no nenen. Kami pingin tunjukin ke Miles kalau meskipun gak boleh nenen, tapi bobonya tetap ditemenin papa mama. Dipikir-pikir kasian juga dia harus menyesuaian diri dengan 2 perubahan besar sekaligus, bobo sendiri dan tanpa nenen.
Malam pertama kami bikin dia capek, kasih dia nonton youtube (parah deh selama menyapih ini jadi nonton terus!), trus pas waktunya tidur kita matiin lampu. Anaknya ya jerit-jerit minta nenen sambil narik-narik baju. Tapi saya tegas bilang, no, ga boleh. Miles sudah besar tidak nenen. Mama sakit kalau Miles nenen. Gitu terus. Well sebenarnya sounding ini mah udah dari bulan kapan dilakukan, tapi biasanya saya lemah dan kasih Miles nenen klo uda nangis kelamaan. Tapi kali ini enggak saya kasih.

Waktu baca cerita teman-teman soal menyapih, saya selalu bertanya-tanya sampai berapa lama anak dibiarkan menangis sampai tertidur sendiri? Mama papa dan mertua saya selalu bilang jangan dibiarin kelamaan nanti sakit. Miles juga pernah kita diemin nangis 30menit karena numpahin air di ranjang, abis itu dia sesegukan dan bobo sampe ngigo nangis gitu, kan kesian yaa. Tapi pas menyapih ini, kita berdua kayak: “oke mungkin emang harus agak tega”. Akhirnya ya gitu, anaknya nangis lama. Hampir sejam kayaknya. Ditawarin air putih, ditawarin susu ga mau. Digendong berontak. Kalau ga salah Miles baru tidur jam 12 hari itu. Itu juga selalu nangis kalau ditaruh balik di ranjang, jadi apa yang saya lakukan? Setelah Miles tertidur di gendongan, saya tidur dengan posisi duduk sampai pagi sambil melukin Miles. Rasanya waktu itu uda melayang kayak zombie karena kurang tidur, badan juga sakit semua. Tapi saya keukeuh pokoknya kali ini harus sukses. Sampai akhirnya jam 5 Miles bangun lagi, saya udah ga ada tenaga buat gendong akhirnya saya ajak makan ke bawah. Dan anaknya lahap. Duh bagi ibu-ibu yang anaknya susah makan pasti tau betapa bahagianya saya saat itu.



Mama saya bilang, hari itu Miles tidur lama banget (karena malemnya kurang tidur kali ya) dan makan banyak banget! Duh dengernya saya jadi makin optimis.
Hari kedua, ketiga, Miles mulai bisa tidur di ranjang walaupun tiap 3-4jam kebangun minta minum dan digendong. Tidurnya kadang masih harus nonton youtube, kadang as simple as matiin lampu gendong sebentar trus anaknya uda tidur!

Oh lupa bilang, mulai hari kedua ini kami membiasakan Miles tidur sama Marcel. Dalam arti, Marcel yang meninabobokan Miles. Pikir kami supaya Miles berhenti mengasosiasikan bobo dengan nenen. Jadi kalau udah keliatan super cranky ngantuk gitu, biasanya Marcel tawarin “Mau Papa gendong ga? Bobo di lorong yu? Sambil tepok-tepo sambil cerita2” (Marcel klo nidurin Miles di lorong gelap sambil cerita nyerempet curhat kerjaan. Wkwkwk pantes anaknya cepet tidur). Biasanya si Miles nolak, dan menjatuhkan dirinya ke saya. Lantas apa yang saya lakukan? Pura-pura tidur dan cuekin dia. Wkwkwkw… biar dia merasa “wah payah nih si Mama tidur, yaudah deh sama Papa aja”.

Perjalanan panjang menyapih ini akhirnya berbuah manis, weekend kemarin waktu nginep di rumah mertua, saya dan Marcel harus pergi ke suatu tempat dan baru sampai rumah jam 9 malam (makan seafood lapangan bola, hahahaha). Ketika kami pulang, Miles udah tidur. Cuma dengan dikasih susu anget katanya. Dan dia baru bangun lagi jam 3 pagi, berarti dia tidur 6jam lebih! Itu juga balik bobo lagi setelah dikasih susu hangat lagi!
Hari selanjutnya lebih menggembirakan, dia tidur jam 10 bangun jam setengah 6 pagi! Yaampun, rasanya super bahagia bisa tidur hampir 7 jam tanpa kebangun.

Total waktu yang kami perlukan dari Miles yang nenen banget ke Miles yang udah bisa jawab “enggak” klo ditanya “mau nenen ga?” kurang lebih 10 hari. Selama 10 hari ini juga ga semuanya mulus. Kadang susah banget bikin dia tidur sampai Papanya marah-marah, tapi kadang ya cuma digendong 2 menit juga ud pules.
Tapi yang paling bikin saya bahagia, napsu makannya jadi meningkat signifikan. Dulu sebelum disapih, Miles cuma makan berat 2 kali. Pagi dia makan buah dan roti, siang dan malam baru nasi plus cemilan di antaranya. Pantesan beratnya kaga naik-naik ya? Kalau sekarang Miles makan berat 3-4 kali plus 2 kali cemilan. Dan puji Tuhan beratnya naik 400gr! Semoga begini terus ya, soalnya kalau nanti dia gamau makan lagi saya pasti pusing puter otak harus gimana lagi secara semua vitamin dan cara udah saya lakukan.

Dea, pernah nanya sama saya. Sedih ga abis berhasil nyapih? Saya sih engga ya hahaha. Setelah saya pikir lagi, 3 usaha awal itu gagal karena saya juga belum rela dan siap nyapih. Saya suka masih kepikiran “kasian Miles harus disapih gara-gara saya hamil, padahal harusnya dia masih bisa nenen sampai umur 2 tahun”. Setelah saya ikhlas, rela dan bertekad bulat (kayak badan saya), ternyata berhasil juga. Miles juga masih nempel banget kok sama saja. Jadi ga usah takut anak jadi jauh ya setelah disapih (apalagi untuk ibu bekerja).
Dipikir-pikir ini kayaknya post terpanjang di blog ini ya? Yagimana, emang perjalanan menyapih ini panjang berliku. Saya sampai sempat nyeletuk “ntar anak kedua gw e-ping ajalah!”. Tapi terus ngebayangin pompa tiap 2 jam, oh no, tidak terima kasih aku tak sanggup. hahaha



Anyway, semoga post ini bisa membantu mama dan ibu-ibu yang sedang atau mau menyapih yaa  

Wednesday, November 22, 2017

Miles si Kambing Hitam

"Heh, kenapa aku yang disalahin ya?"
Seperti anak lain, sejak mulai merangkak dan sekarang lancar jalan, Miles hobi banget ngegeratak. Sampe Omanya suka bilang "geratak time" kalau dia mulai nangkring dan ngubek-ngubek laci. Akibatnya barang kita jadi suka hilang (karena dia suka bawa-bawa trus taro sesuka hati dia, dan HOBI BANGET buang sampah sampai semua-muanya ditaro di tempat sampah T.T) atau rusak karena kalau kesel dia banting (an emotional baby He is).

Gara-gara itu, kalau kita nyari barang ga ada pasti spontan langsung bilang "Pasti Ugu nih" atau kalau ada yang rusak "Ugu sih suka mainin ini"

Kayak tadi pagi, gw mau berangkat kerja nyari extension charger laptop. uda ngubek sana-sini ga ketemu. Marcel yang bantuin nyari langsung bilang "Si Miles nih pasti. Dari kemarin dia mainin itu kan". Padahal bendanya ada di laci disimpen Mbak gw. hahahaha!

Trus pas mau matiin AC, kita notice baterenya uda mau habis. Pas dibuka, batere dalemnya uda bocor hampir pecah gitu. Marcel langsung komentar "Wah, gara-gara ugu nih banting-banting terus" LOL. padahal bisa aja kan baterenya emang rusak.

Siangan, Marcel telepon gw katanya dia salah pake kartu debit, trus lagi-lagi dia komentar "Si Miles pasti kemarin malem mainin dompet aku deh!"

Hahahahaha. emang enak punya anak kecil. Bisa jadi kambing hitam dan anaknya belum bisa protes.

Kalau kamu suka mengkambing hitamkan anak kamu juga ga? LOL
si kambing hitam kesayangan

Jalan - jalan ke Jakarta Aquarium Neo Soho

Udah dari lama Mama Mertua ngajakin ke seaworld, katanya mau ajak Miles lihat ikan. Tapi karena males ngebayangin rame dan panasnya, gw usul ke Jakarta Aquarium aja. Beberapa waktu lalu, pulang gereja, akhirnya kita langsung meluncur ke Neo Soho yang memang cuma sepelemparan kolor dari rumah.

Seperti yang sudah diketahui, Mal Central Park dan Neo Soho ini memang hampir selalu rame kayak lagi ada bagi sembako gratis setiap minggunya, tapi puji Tuhan, kemarin jalanan menuju kesana lumayan lancar dan kita pun cepet dapet parkir. Beli tiket juga ga pake ngantri, gw ga tau sih apa memang kita yang kepagian atau memang ga ngantri.

Ohya, saat ini sedang ada promo, beli pakai CIMB Debit/Credit Card atau BCA Credit Card diskon 20%.

Di Jakarta Aquarium ini, jenis tiketnya dibagi 2. Premium dan Regular.
Yang Premium, boleh keluar masuk (dalam kurun waktu 4jam) dan termasuk Theater 5D. Kalau yang reguler cuma boleh sekali masuk aja dan ada batas waktunya yang gw lupa berapa lama hahaha maaf yaa for not being a reliable source hahaha.

Harga Premium: 225rb/weekend
Harga Reguler: 175rb/weekend.

selain tiket, kita akan dikasih brosur dan peta berisi jadwal show dan feeding time masing-masing tank
dibeberapa tank ada layar sentuh gini sesuai tema tanknya, tapi sayang dari beberapa alat yang gw coba, ga semuanya berfungsi dengan baik :(
Kita ambil yang reguler, karena anaknya juga kan cepet bosen yaaa.. kayaknya ga bakalan dia mau keluar masuk nyari2 ikan lagi. Mungkin kalau udah gedean, kita pergi lagi bareng anak2 kecil lain mau ambil yang premium karena penasaran sama Theater 5D nya.

Overall menurut gw tempatnya bagus, nyaman. Detail dekornya juga oke banget. Cuma ga terlalu besar yaa.. jadi kalau ga ngetem lama di tiap tanknya, kayaknya 30-45 menit juga uda kelar gitu. Menurut mertua dan Marcel yang udah ke seaworld, jauh lebih lengkap dan gede seaworld tapi ya itu mungkin kurang nyaman aja karena ramai dan panas.

Anyway, seneng banget ada tempat rekreasi kayak gini di Jakarta bisa jadi alternatif tujuan saat weekend. Cerita nya lanjut di foto-foto aja yaaa :)

begitu masuk, kita disambut gerombolan ikan ini di langit-langit. nice touch!

kalau laper ga usa khawatir, ada cafetaria di dalem. gw sebagai mamak irit, tentunya ga beli donk mending tahan lapar trus makan diluar hahaha
ini foto penting ga penting. yang kayak batu itu ternyata BANTAL dan SUPER EMPUK! detail dekornya sih patut diacungi jempol!


Setiap tank ada jadwal feeding timenya sendiri-sendiri, jadi mending cek dulu sebelum nentuin mau masuk jam berapa. kayaknya seru sih feeding time tapi kemarin gw ga nungguin  soalnya lebih penting ngikutin jadwal Miles bobo dan tidur biar mood nya bagus

selain ikan, disini juga ada section reptil. kita bisa pegang dan foto bareng ular kalau mau. liat tuh bibirnya si miles masih dtekuk karena baru tidur sebentar uda dibangunin >.<

section souvenir dibagian dalam yang barangnya lucu-lucu tapi sebaiknya cepet-cepet dilewatin karena mihil. LOL

jelly fish tank yang lampunya bisa ganti-ganti

di area rawa-rawa, ada layar dibawah gitu trus ada gambar ikan lari-lari. Miles seneng banget ngejar-ngejar ikannya.




terpana liat ikan
dibawah sini adalah the biggest tank yang jadi tempat buat main shownya. asli ikannya gede banget. kayaknya sampe segede Marcel! Miles sampe terpana ga mau pindah


ini kalau ga salah educational center gt. tapi kemarin jadi tenpat para suster ngasih makan bayik bayik

dibeberapa tank ada tunnelnya bisa dimasukkin

Kayak Miles dan Mbak Nita ginii



salut dengan mas dan mbak yang jaga disini, kita diharuskan cuci tangan dulu sebelum pegang ikan. dan meraka juga tegas sama orang/anak-anak yang kasar sama hewan di tank karena hewan-hewan itu bisa stress.


salah satu anak yang dimarahin karena kasar sama bintang laut
foto wajib kalau kesini LOL




Thursday, September 28, 2017

Mau ditaruh di mana (cont')

Walaupun masih sering mengeluh dan sering lupa, tapi gw sadar betul kalau gw ini beruntung.

Masih ingat post ini mengenai kegalauan gw mau titip Miles dimana setelah lahir? Sampai menjelang akhir cuti hamil, gw masih belum punya pembantu/nanny dan masih belum tau mau menitipkan Miles dimana. Sampai pada suatu hari, saat sedang pup (TMI, sorry not sorry), ide cemerlang datang: kenapa ga numpang di rumah mertua untuk sementara ya? Pertimbangannya waktu itu:
1. Mertua gw telaten dan bersih banget orangnya
2. Mertua gw vegetarian dan makan sehat sejak bertahun2 lalu (less salt, less sugar, almost no dairy products etc), makanan Miles dijamin sehat dah
3. Milea cucu pertama, dijamin dia bakalan disayang abis abisan. LOL
4. Workshopnya Marcel juga lebih deket dari rumah mertua, jadi ibaratnya: berkorban buat anak dan suami lahh hahaha

I have no doubt that Miles will be in a good care with her. Masalahnya cuma dua:
1. Berarti gw harus back to commuting life - which is not a problem at all for me karena dari jaman dahulu kala juga gw uda jadi commuter kan
2. Harus cari mbak untuk temenin Mertua jaga Miles, karena menjaga bayi itu melelahkan kawan! Semua ibu rumah tangga pasti tau betapa mencari ART itu adalah suatu drama tersendiri. Tapi masalah ini juga terpecahkan berkat celetukan asal gw ke bos. Gw tiba2 aja bilang "gila nyari pembantu susah banget ya pak?" Eh terus dia nawarin buat nyuruh pembantunya nyariin temen buat kerja di rumah gw. 

Hahaha terus ternyata orangnya lumayan oke. Walaupun kadang masih suka ditegur, Mbaknya Miles ini sayang sama Miles. Jarang main hape dan nurut klo dibilangin. Puji Tuhan banget deh.

Nah kenapa gw bilang gw beruntung? Karena gw tau ga semua orang punya this kind of luxury, (bisa ninggalin anak dengan tenang buat bekerja itu kemewahan si buat gw). Ga semua mertua/orang tua bisa dititipin anak dan untuk punya ART/ suster yang bisa diandalkan itu bener2 hal yang susah didapet sekarang. Gw tau betul banyak ibu muda yang masih pingin banget kerja tapi harus resign karena ga tau mau menitipkan anaknya dimana.

Tapi terus apakah berarti mereka gak beruntung? Oh sama sekali engga donk.

Gw percaya setiap orang (dan anak) punya berkatnya masing-masing. Ada yang ortu/mertuanya tinggal deketan jd bisa dititipin tiap hari. Ada yang dapet mbak/suster yang super handal dan dapat dipercaya untuk jaga anak sendiri saja (temennya Miles di kompleks ada nih yg tiap hari ditinggal berdua aja sama susternya, dan susternya baikkk dan telaten banget!). Ada yang ortu/mertuanya mungkin jauh, ga percaya ninggalin anak berdua suster tapi beruntung kerja di kantor yang ada fasilitas daycarenya (lirik kejam penuh tatapan iri ke kantor tetangga) atau ada juga yang beruntung punya rejeki berlebih buat titip anak ke daycare terpercaya.

Ada lagi yang beruntung bisa berhenti bekerja dan full jadi ibu rumah tangga karena keadaan finansial keluarganya sudah cukup mumpuni. Karena banyak juga lho orang yang pingin banget jadi ibu rumah tangga tapi ga bisa resign karena keadaan finansial keluarga.

Mungkin ada yang komentar "Ah sok positif lu tan, lo sih enak bisa pergi pagi pulang malem. Tinggal  terima beres"

Apakah benar semudah itu? Ya kagaklah, enak aja!

Awal-awal kita pindah ke rumah mertua, Miles kaga mau sama Omanya. Liat omanya bisa nangis, dan setiap mandi tuh nangis kejer kayak orang dipukulin. Belum lagi dia sempet ga mau nyusu dr botol. Perjalanan dari rumah mertua ke kantor gw, walaupun ngelawan arah tapi tetep aja cape dan macet abis malih. Dan seenak2nya di rumah mertua, pasti tetap enak di rumah sendiri kan? :)

Setahun jadi ibu, gw belajar kalau ga ada tuh standar ideal how to raise a child or even bigger, how to live your life. Gausa terpengaruh sama kehidupan orang (apalagi selebgram yang penuh pencitraan, ups), jalanin aja yang terbaik sesuai dengan keadaan dan kemampuan kita. Kalau ngikutin hawa napsu terus mah kaga ada abisnya. 

Ingat aja kalau kita semua diberkati dengan cara yang berbeda. Jadi semangat ya ibu-ibu yang masih bingung mau titipi anaknya dimana. As cliche as it may sounds, percayalah pasti ada jalan terbaik :)

Cheers!


Tuesday, September 19, 2017

Miles' 1st Birthday Celebration - Review Bakmi GM Puri Indah

Sama seperti kebanyakan ibu lainnya, perkara merayakan ulang tahun anak (pertama) yang pertama sempat bikin gw dilema. Awalnya dilema sebatas: mau dirayain apa engga. Begitu diputuskan mau rayain, dilema berlanjut menjadi "mau dirayain dimana" "undang siapa aja". Niatnya selalu ingin di rumah, tapi rumahnya kecil, takut tamu ga nyaman dan cape beberesnya. Akhirnya kita putuskan mau dirayain di resto, nah lanjut lagi dilemanya, mau di resto apa, ngundang siapa aja. Gitu aja terus ga selesai2 sampai akhirnya gw sebel sendiri dan mutusin ga ngerayain aja hahahaha..

Anyway, karena kepusingan sendiri, gw memutuskan untuk ga rayain ultah Miles. Kebetulan, Marcel memang mister paling ga mau ribet sedunia, jadi ya dia setuju aja. Eh tapi terus 3 minggu sebelum ultah, Miles tiba-tiba sakit lumayan parah. Panasnya berkali-kali menyentuh angka 40derajat. Badannya lemesssss, ga mau makan, ga mau nen. cuma mau digendong dipeluk dan bobo. Heartbreaking banget deh :( Gw sampai harus cuti lumayan lama waktu itu karena walaupun tau Oma Miles akan taking a good care of him, tapi tetap aja ga akan tenang kerja ngeliat dia kayak gitu. Dan kasian juga Omanya kalau harus gedongin dia sepanjang hari kan. Nah, saat liat dia sakit parah bgitu, gw sampe ngomong "Miles, ayo buruan sembuh ntar kita rayain ultahnya".

Jadi ya bisa dibilang, perayaan ini semacam ucapan syukur Miles sembuh dari sakit. Ucapan syukur buat semua teman dan sodara-sodara yang udah banyak banget bantu kita selama satu tahun pertama menjadi orang tua. Dan yang paling penting, ucapan syukur kita sebagai orang tua, sudah diberi kepercayaan untuk jadi orang tuanya Miles.

Dan karena udah mepet, akhirnya kita putuskan untuk rayain di Bakmi GM Puri Indah Mall. Walaupun kayaknya mainstream banget ngerayain di Bakmi GM, tapi kita sangat-sangat puas merayakan ultah Miles disini. Kenapa?

1. Kita cocok sama makanannya

I mean, who doesn't like Bakmi GM? Another plus poin, bisa di-take away! Jadi bisa sekalian titip buat sodara yang kebetulan berhalangan.

2. Perhitungan makanan mereka fair banget
Untuk makanan orang dewasa, walaupun paketnya ditulis 50rb, tapi dihitungnya tetap berdasarkan actual price of the food they ordered which is less than 50rb!

3. Pelayanannya cepat
Makan di Bakmi GM tuh ga pake basa basi, pesen, beberapa menit kemudian dateng. Dari pengalaman kita, males banget kalau dateng ke acara yang makanannya keluarnya lamaaa.

4. Di depannya ada ZooMov
Should I say more? ZooMov is lyfe!! penyelamat kalau anak yang ultah bosen nungguin tamu, bisa naik zoo mov dulu. Dan di sampingnya ada Scoop tempat pernak pernik lucu, yang bisa jadi penyelamat kalau perintilan dekor ada yang kurang (seperti gw)

5. YUDI PIC Birthday Party disini SUPER SANGAT HELPFUL!
Dari awal kita book tanggal, dia rekomen paket yang paling value for money menurut dia (which is not the most expensive). Dia kasih tau parkir yang enak dimana kalau bawa barang, dan pas kita dateng, dia uda siap bawa trolley dan tanpa diminta, sigap bantuin angkut2 barang.

Yudi juga bantu bikinin balon buat backdrop dan bunga-bunga dari balon untuk naruh baling-baling favorit Miles! Dan hasilnya bagus, kenapa? Karena dia pernah kerja di tempat dekor! Mantab kan!

Pokonya, seperti yang udah gw ceritain sebelumnya, karena keputusan untuk ngerayain ini mendadak, plus Mama nya Miles pelit, semuanya mau dikerjain sendiri termasuk dessert table dan dekor. Tapi Mama nya Miles ini lupa, kalau dia ini ga punya kemampuan dekor mumpuni. Untungnya, ada Yudi ini yang bantuin.

Sebelum acara mulai, gw lihat Yudi yang juga merangkap jadi MC, latihan berkali-kali how to pronounce Miles' name. And I greatly appreciated that :)

Bakmi GM, you should give Yudi a big fat salary raise! He did such a good job!

Ini post jadinya lebih kayak tentang si Yudi ya dari pada tentang Miles? Wkwkwkwk


Oke balik lagi yaa ke cerita ultah Miles.

Tema besar Ultah Miles adalah Little Monster. Why? Karena jujur aja, gw dan Marcel suka merasa kewalahan ngurusin Miles yang aktif banget sampe kita suka bilang "duh ini monster kecil", but in a good adorable way yaaa. LOL

Dan karena kita pelit dan sok kreatif, hampir semua perintilan ultah Miles dibikin sendiri. Kue ultah  dan cookies karakter dibuatin (dan jadi kado) dari Oma Nani, sahabat Oma Miles. Oma Miles bikin kue keju dan banana cake. Ema Miles buatin kue bugis yang diburu tamu-tamu undangan.

Mama Miles dengan kemampuan desain yang terbatas, bikin perintilan dekor, backdrop, design kaos, pesan kain untuk meja (yang kemudian dijahit jadi sprei ranjang Miles hahahaha. PELIT SEKALI ANDA TANTRI). Tante Nia, sahabat Mama Miles bantuin bikin pompom warna warni.

Bisa dibilang, Ultah Miles adalah hasil labor of love :)

Cerita selanjutnya, lewat foto-foto aja yaaa.. Ohya, foto-foto ciamik ini diambil oleh Om Lewi - nya Miles yang menyempatkan waktu untuk datang dan foto-foto ditengah-tengah kesibukannya jadi Banking Lawyer dan Weekend Jumper. You should check his web out :)
Baling - baling kesukaan Miles, sengaja dibawa biar moodnya bagus sepanjang acara

ini dia si Yudi yang tadi gw ceritain


Banana cake buatan Oma dengan topper buatan Mama Miles

Dekor dan dessert table DIY. Biar berantakan yang penting warna warni lah yaa

"Kue" nya Miles. Kue little monster ini hadiah dari Oma Nani, sahabatnya Oma. Kue keju dibuat sama Oma Miles. Kalau kue bugis, buatan Ema Miles. Semuanya ludessss ga bersisa! 





walaupun keliatannya jutek, mood Miles bagus banget selama acara :)
foto bareng oma opa yang jagain sehari-hari kalau mama papa kerja
sama oma opa - engkong ema

goodie bag sederhana

beberapa teman dan saudara yang udah baik banget mau jauh-jauh datang :)

over energetic kids LOL


Papa yang kerjaannya ngisengin dan gangguin Miles tidur terus

gw selalu merasa foto ini menggambarkan keseharian kita banget, gw yang suka heboh berlebihan, marcel yang sok cool dan Miles yang selalu curious over anything!


we love you our little monster :)

Sekian postingan tak terstruktur ini, mohon maaf, mohon maklum yaa anaknya uda nungguin di rumah nih. Semoga bisa lebih rajin posting lagi ke depannya (ini blog apa email ke bos yak? hahaha)


UPDATE: Bakmi GM Puri Indah lagi di renov, bakal buka lagi Desember 2017. Yudi saat ini ada di Bakmi GM Living World Alam Sutera





Tuesday, August 08, 2017

Menjadi ibu bekerja

Gw engga pernah menjudge ibu satu lebih dari ibu yang lain. Mau ibu yang melahirkan normal, caesar, mau ibu yang asi, ga asi, ibu rumah tangga atau ibu bekerja. Menurut gw semuanya sama berat dan tanggung jawabnya.

Kali ini gw mau sharing aja pengalaman dan pendapat gw pribadi soal menjadi seorang ibu bekerja. Again, tanpa bermaksud merasa superior terhadap ibu rumah tangga.

Walaupun sempat bingung mau menitipkan Miles di mana, menjadi ibu bekerja tetap menjadi pilihan gw. Sebenarnya bisa dibilang ga ada pilihan sih, karena gw memang harus bekerja. Selain karena kami belum siap secara finansial; gw, berkaca dari pengalaman orang tua gw, percaya kalau sebaiknya ada two sources of income dalam keluarga (again, ini pengalaman dan pendapat pribadi, so no offense ya). Pilihan itu semakin mantab kala cuti melahirkan. Gw alih-alih menikmati, malah jadi sering bosen dan akhirnya sering bete kalau ditinggal Marcel kerja. Alasannya menurut gw sederhana: karena gw ga bisa stir dan saat itu gw ga ada pembantu or suster. Deep down, saat itu gw merasa kok tiba-tiba hidup gw Jadi domesticated banget ya? Mau pergi ke mall yg jaraknya cuma setengah kilo aja kayaknya susahh banget, harus nunggu Marcel pulang. Don't get me wrong,I do love cooking, but being a full time housewife is just not for me.

Sekarang setelah hampir setahun balik kerja, walaupun sangat menikmati dunia kerja, gw sadar sulit banget jadi ibu di dunia kerja yang didominasi laki-laki. Disclaimer: Gw bukan feminis atau aktivis kesetaraan gender ya.

Coba deh, cewe-cewe yang kerja disini ngacung berapa banyak yang kalau meeting cewe sendirian? *tunjuk tangan*

Gw sempet diskusi ini sama temen-temen cewe gw, dan hasilnya banyak banget yang kalau meeting cuma sendirian. Apalagi kalau meeting nya uda soal strategic atau high profile project.

Jadi perempuan, apalagi sekarang ibu, banyak banget excuses yang bisa kita pakai. Mulai dari "izin ga masuk karena sakit hari pertama haid" atau "izin pulang cepat karena anak sakit" atau yang paling sering gw lakukan "izin pumping 2x sehari". Gw termasuk beruntung karena bos dan perusahaan tempat gw kerja lumayan flexible soal ini. Tapi beberapa hari ini saat tergoda untuk izin ga masuk karena nyeri haid, gw berpikir "alasan2 kayak gini bakal bikin gw keliatan kurang professional ga ya?"

Pikiran ini kembali muncul hari ini, saat gw harus maraton meeting. Sempet terlintas pikiran buat izin sejenak untuk pumping, tapi terus gw mikir lagi: gw ga mau dianggap less professional or less productive just because I have to do my obligations as a mother. So I decided to continue joining the meeting and pumping in the uber on my way back home.

Gw bukan perempuan gila karier, gw juga percaya kalau after all family is number one and it's only a job after all. But here I am, pumping in Uber and promise my self that I will not let my self using my motherhood duties as an excuse to be less professional at work while trying not be less of a mother for Miles.


Wish me luck!