Wednesday, January 08, 2020

berbicara soal ART




Salah satu topik yang paling sering bikin berantem di rumah saya adalah: ART.

Bukan, bukan masalah ART yang kurang ajar, suka nyuri ato gimana. Puji Tuhan saya dapat ART yang lumayan reliable walaupun yang satu masih sering gonta ganti dan belum teruji.

Perdebatan yang sering terjadi lebih ke bagaimana memperlakukan ART.
Marcel dan Mamer merasa saya terlalu baik, memanjakan ART. Padahal menurut saya, perlakuan saya masih sangat wajar.

Misal nya, waktu ART saya minta izin untuk menonton pertandingan tinju saudara sepupunya. Saya beri izin, walaupun akhirnya dia pulang terlalu malam, setelah saya tegur, saya tetap memberikan izin libur di hari natal (kebetulan ART saya kristiani) seminggu setelahnya. Menurut Marcel dan Mamer, harusnya saya tidak kasih izin karena dia membuat salah seminggu sebelumnya dan mbak yang satu lagi, masih baru dan belum bisa full diandalkan.

Contoh lagi, saya dan Marcel sampai rumah kira-kira jam 7 malam. Saya pinginnya begitu sampai rumah, kita langsung makan mandi dan gantian pegang anak2. Tapi ya kadang Marcel mau santai dulu, mau merokok dulu. Jadi lama gitu. Padahal maksud saya, kasihan mereka belum makan dan istirahat seharian. Selain itu, waktu kita sama anak-anak kan juga jadi makin berkurang karena gak lama lagi mereka harus segera tidur. Ya begitulah kira-kira perdebatan hampir setiap hari.

Tapi yang membuat saya tiba-tiba ingin menulis topik ini adalah sebuah wa di grup ibu-ibu kompleks. Isi nya kurang lebih begini:
Ada yang perlu ART menginap? Gaji 2.3jt perbulan
Langsung semuanya heboh.
Gaji segitu harusnya untuk rumah 400m2 di Jakarta.”
Kerjanya apa aja mahal banget.

Trus saya kok miris ya dengernya.

Gaji 2.3jt itu bukan angka yang sampai gimana – gimana kalau menurut saya. Tapi kenapa dengan angka segitu, kita jadi merasa berhak untuk memeras tenaga seseorang sampai sebegitunya? Padahal kalau dibalik posisinya, apa kita mau mengurus rumah, masak, jaga anak, dibayar 2,3jt?

Tiba-tiba angkanya jadi kecil ya? 😊

Gaji ART saya juga tidak fantastis. Yang baru malah belum sampai 2jt karena kesepakatannya gaji dinaikkan berkala setelah 3 bulan bekerja. Tapi walaupun lumayan berasa membayar gaji mereka berdua, saya berusaha ga memeras tenaga mereka sampai bagaimana. Saya sebisa mungkin gak lupa kalau mereka juga manusia. Perlu makan, minum yang layak, perlu istirahat dan perlu libur sejenak.

Hal lain yang jadi pemikiran utama saya adalah, mereka yang menjaga anak-anak saya. Kerja mereka ga perfect, masih suka salah dan teledor. Tapi masih dalam batas bisa saya tolerir. Selama mereka ga pukul, ga suka teriak-teriak ke anak saya, kasih makan bener, gak nyuri dan mesum. Buat saya sih sudah cukup. Buat saya.

Dan ketika saya sudah di rumah, sebisa mungkin peran mereka menjaga anak2 harus segera saya ambil, selain supaya ART bisa istirahat biar gimana saya kan tetap mamanya. Rasanya kalau sampai anak tidur sama mbak, apalagi cuma karena gamau rugi udah bayar gaji suster 3jt sebulan, tuh bagaimana gitu. Ini lagi-lagi menurut saya ya 😊

Kalau menurut kamu bagaimana?

Thursday, December 05, 2019

berbicara soal kesehatan dan asuransi

Beberapa waktu lalu, di timeline instagram saya ramai posting berduka dari teman-teman kerja saya. Orang yang post merupakan teman-teman saya yang tidak saling mengenal satu sama lain tapi mereka semua post mengenai meninggalnya satu orang yang sama. Mario kalau tidak salah namanya. Mario orang yang ramah yang punya banyak teman sampai ketika ia meninggal, nampak sekali banyak yang berduka.

Mario meninggal mendadak, di usia yang sangat muda. Di usia 28 tahun, Mario meninggal karena serangan jantung setelah ditilang polisi di jalan raya.

Saya tidak kenal dengan Mario, bertemu pun rasanya belum pernah. Tapi meninggalnya Mario, may you rest in peace, seperti menjadi tamparan untuk saya bahwa kita manusia itu sungguh rentan. Engga ada apa-apanya. Semua yang kita punya di dunia ini bisa hilang sekejap begitu saja.

Lalu saya jadi mellow. Bagaimana kalau suatu hari saya meninggal dunia mendadak? Suatu hal yang bukannya tidak mungkin mengingat gaya hidup saya sekarang bukan yang paling sehat dan ideal. Bagaimana dengan anak-anak? Bagaimana dengan Marcel nanti? Lebih buruk, bagaimana kalau saya dan Marcel meninggal bersama, tiba-tiba? Ahh, gila. Sedih sekali membayangkannya.

Kegundahan ini lalu saya post di instragram. Niatnya apa ya? Hmm, mencari teman mellow mungkin? Ternyata tidak sedikit yang berpikiran seperti saya. Namun yang mengejutkan, tidak sedikit pula yang mengira saya ingin berjualan asuransi. Maaf kawan, saya memang suka jualan tapi saya tidak suka mempermainkan perasaan orang demi mendapatkan uang beberapa ratus ribu. Saya belum sampai se-desperate itu.😊

Kalau boleh bercerita, memang saya sudah terdaftar sebagai agen asuransi. Tapi saya hanya menawarkan kepada orang-orang terdekat yang kemudian juga saya hentikan karena tidak kuat mendapat penolakan. Mulai dari "gw udah ada" "gw belom perlu" "gw mending nabung aja" sampai tiba-tiba chat saya tidak dibalas. Gak apa-apa, saya juga pernah kok diposisi itu. 😅

Saya akhirnya punya satu klien, berkat sahabat saya Mica. Klien saya ini adalah rekan kerja Mica yang ingin mendaftarkan ibunya masuk asuransi. Saat itu concern-ya hanya ingin mendapatkan asuransi kesehatan karena selama ini beliau tidak pernah ada riwayat penyakit berat. Akhirnya polis dibuatkan dengan fokus utama asuransi kesehatan, waktu itu akhirnya kami tambahkan perlindungan penyakit kritis karena masih ada budget yang bisa dialokasikan.

Singkat cerita, klien saya satu-satunya ini suatu hari mengabari bahwa ibunya mengalami sakit yang hebat di dada, harus dibiopsi dan kemudian diketahui bahwa beliau mengidap Kanker Paru Stadium 4. 

Hancur hati saya. Jujur awal niat menjadi agen hanya ingin mendapatkan uang tambahan. Karena saya pikir, apasih? Gampang dan lumayan hasilnya. Tapi selain penolakan yang bertubi-tubi, beban moral dari seorang agen asuransi itu luar biasa. Bayangkan, orang yang kita kenal sehat baik-baik tiba-tiba sakit begitu parah. Buat orang yang gampang baper seperti saya, ini jelas tidak mudah.

Sejak kejadian ini, saya jadi memiliki respek lebih terhadap rekan-rekan yang serius menekuni profesi menjadi agen asuransi. Karena itu, saya tahu pekerjaan dan beban moralnya tidak mudah.

Kita gak tau sampai kapan Tuhan masih kasih kita umur dan rejeki. Tidak tahu kapan kita masih bisa produktif seperti hari ini. Kita sebagai manusia cuma bisa usaha si, mulai hidup sehat (sejak kejadian Mario meninggal, saya mulai mengurangi nasi), dan mungkin jika ada rejeki bisa mulai beli proteksi diri. Orang banyak salah kaprah, malas beli asuransi karena takut rugi. Tapi namanya proteksi, jangan lihat untung rugi lahh.

Buat pasangan yang bekerja saya rasa wajib punya proteksi asuransi jiwa. Karena itu, kalau kita meninggal anak-anak kita bagaimana? Hidup tanpa orang tua saja sudah cukup berat, apalagi hidup tanpa orang tua dan tanpa peninggalan?

Saya pasrah deh kalau dicap jualan lagi lewat post ini. Niatnya cuma mau membangun awarness tapi ya setiap orang pasti punya pendapat sendiri - sendiri 😉

Thursday, January 31, 2019

Tanggal 25

Tanggal 25 selalu menjadi bayang-bayang buat gw setiap bulannya. Tidak lain tidak bukan karena di tanggal itu kami harus bayar gaji karyawan bengkel.  Biasanya dari minggu kedua gw udah mulai senewen, nanya-nanya admin terus "mobil bapak X sudah selesai belum?" dan kata-kata favorit gw "ada kerjaan baru lagi ga?".  Buka tutup aplikasi mobile banking berkali-kali, padahal mah yah udah tau saldonya berapa. Gitu aja terus tiap hari sampai hari gajian lewat, terus mulai senewen lagi di minggu kedua. Begitu terus siklusnya.

Kemarin ketika mulai senewen lagi karena hari gajian sudah mendekat tapi kerjaan belum begitu banyak gw pun jadi cranky dan jutek. Sampai Marcel bilang "tenang aja yam, nanti pasti cukup" gw diem karena tiba-tiba sadar kalau gw selalu, SELALU takut, cemas, senewan hampir setiap harinya.

Gw terbiasa membayangkan "the worst thing that might be happened". Keadaan yang ga pasti, atau merasa gak siap menghadapi kejadian-kejadian di depan itu sungguh membuat gw anxious. Sempat terlintas, apa pola pikir ini karena pekerjaan gw ya? Kebetulan di kantor gw banyak ikut proyek kerjasama dengan pihak luar, jadi tiap drafting/ review ya selalu dalam suudzon mode gitu lah. Otak gw tiap hari isinya kira-kira "OK, biar kita ga dikadalin, atau kalaupun sampe kita mau dikadalin, gimana caranya biar kita ga rugi-rugi amat".Tujuannya ya apalagi kalau bukan untuk melindungi kepentingan perusahaan kalau-kalau hal-hal yang ga diinginkan terjadi.
Tapi setelah gw pikir lagi (emang dasar kebanyakan mikir sih gw ya kayaknya), dari dulu gw emang sudah terbiasa planning idup gw. Sejak SMA sudah tau mau kuliah dmana, pas kuliah harus ambil mata kuliah apa biar bisa lulus secepat2nya. Abis lulus magang dimana, kerja dimana. Semuanya uda gw bayangkan dan rencanakan. But hey, namanya hidup makin lama makin complicated. Dulu hidup cuma mikirin diri sendiri, tapi sekarang ada banyak kepala yang harus dipikirin. Goalnya mah udah tau, gedein usaha, bayar gaji karyawan tepat waktu, punya hidup yang mapan gitu, tapi ternyata prosesnya tak semudah itu kakaak. Udah ngerasa hidup cukup, tenang masalah keuangan, eh tau-tau ditipu orang. Lagi enak usaha, eh tau-tau muncul lagi tuh drama karyawan tak berkesudahan.

Balik lagi, ke omongan Marcel untuk tenang. Itu bener-bener kena buat gw. Apalagi beberapa waktu sebelumnya sudah diingatkan juga lewat kotbah di gereja. Singkatnya, hal-hal yang kita harapkan dari Tuhan itu sebenernya hal-hal yang menghalangi kita buat menerima Tuhan seutuhnya. Karena sesungguhnya orang itu gak suka surprise selain dari yang mereka harapkan. The unknowing ceunah. Kita suka surprise dari suami karena kita udah bayangin dikasih hadiah atau bunga, tapi kalau surprisenya yang kita ga tau apa, jadi deg-degan juga kan. Bagian yang paling menohok buat gw adalah waktu Pendetanya bilang:

"don't cling to the dark and the familiar. let's step into the light."

Makjleb banget sih. Gw yang terbiasa menyusun dan merencanakan hidup gw. Gw yang terbiasa tahu harus berbuat apa. Gw yang akhirnya sotoy dan lupa bahwa Tuhan selalu pelihara gw, selalu jaga gw. Gw takut menerima Tuhan sepenuhnya, karena takut kalau apa yang terjadi nanti ternyata bukan seperti yang gw harapkan atau inginkan. Padahal Tuhan punya rencana yang lebih baik, lebih besar dan lebih indah buat kita. Apa yang saat ini kelihatan bukan keadaan yang baik buat kita, pasti ada makna dibaliknya. Ingat bahwa dibalik tiap kesulitan, setidaknya pasti ada pelajaran.

Gila susah banget sih nulis tulisan berat gini. Walaupun ngalor ngidul dan berantakan, but I hope you (whoever reading this, including myself in the future) got the idea. 

And guess what, setelah Marcel bilang gitu gak lama dapat info beberapa kerjaan baru mau masuk. Gajian bulan ini pun aman kembali.

Semoga bulan depan aku gak galau lagi yah :)



Friday, December 14, 2018

kembali bekerjaa




Hari ini adalah hari kedua gw kembali bekerja. Rasanya gimana? BAHAGIAAAAAA! Sampai Marcel aja notice dan bilang "Kamu kedengeran jauh lebih happy setelah balik ke kantor"
Menurut Marcel saat gw cuti hamil gw jadi that demanding - overly attached wife yang kerjaannya telepon, wa dan nanya "kamu pulang jam berapa?"

Well, bener sih. Abis selama cuti hamil gw banyakan di rumah, jarang keluar (bayangin repotnya pergi bawa rombongan sirkus uda bener-bener bikin males, mending di rumah dah). Dan karena di rumah terus, jadinya bosaaann. Aku rindu bertemu dan berinteraksi dengan orang dewasa lain.
But in my defense, cuti hamil kali ini gw ga terlalu bawel sihh. Selain karena Miles juga uda mulai bisa diajak ngobrol dan bercanda, sekarang ada 2 mbak di rumah yang sedikit bisa diajak ngobrol (mereka cenderung diem ga kayak mbak Miles sebelumnya yang ditoel dikit langsung nyerocos). Waktu cuti melahirkan Miles dulu, gw sempat baby blues paraaahh. Bayangin deh waktu itu baru pertama kali punya anak, di rumah ga ada pembantu dan Marcel pulang malem terus. (PLUS GA ADA GOFOOD!) Waktu itu rasanya mau kencing aja deg2an takut ninggalin anak. Padahal mah ya kaga apa-apa sih sebenernya. Taro aja anaknya di box, nangis 2 menit doank mah gak bakalan kenapa-kenapa dibandingin kita nahan pipis dan kena ISK kan. Tapi ya lagi-lagi, maklum anak pertama. Alhasil dulu, bener-bener baru bisa makan, mandi pipis pup kalau Marcel uda pulang. Wajarlah eke baby blues yeee.

Ada yang bilang, perkembangan anak akan lebih cepat saat ibunya ada di rumah. Hmm, ini gw akuin sih. Sejak gw cuti melahirkan, Miles yang tadinya cuma bisa ngomong "kuning, kucing, papa, mama dan engga" tau-tau jadi lancar bener ngomongnya. Terlalu lancar sampai kadang ga bisa stop. Hii gemas.


Tapi.. tapi.. tetap aku lebih bahagia bekerja.


Selain karena bisa nambah income buat keluarga, sejak menikah bekerja itu jadi semacam me time buat gw. Sebelum ada Miles dan Morris, demam dikit gw langsung izin ga masuk. Kalau sekarang, selama masih bisa jalan, gw bakalan tetep masuk kerja ajalah. Kenapa? Soalnya klo di rumah juga kaga bisa istirahat hahahahaha



Satu hal yang gw syukuri, walaupun gw bekerja tiap hari tapi anak-anak masih dekeeet dan sayang banget sama mamanya. Gw pernah diceritain ada ibu yang dilema mau berenti kerja karena pas anaknya sakit si anak malah pingin sama pengasuhnya. Kebayang sih, sedihnya saat anak kita memilih orang lain dibanding kita ibunya sendiri. Jadi ya walaupun aku pegal karena tiap malam ada yang minta "bobo di etek mama" dan "garukin (p)antat" gw bahagia karena masih bisa punya me time di kantor dan tetap disayang duo M di rumah.

Tapi (banyak banget tapinya yah perasaan), kalau bisa cuti melahirkan 6 bulan dan terus digaji, aku juga ga nolak sih. HAHAHAHA







Tuesday, December 04, 2018

Soal Mencintai Anak Kedua


Hamil anak kedua ini memang diluar rencana, bener-bener ga ada rencana hamil lagi eh tau-tau uda telat mens aja 😔

Sempat stress mikirin biaya, sempat baby blues juga (terlihat dari post ini). Salah satu kecemasan yg paling sering terlintas adalah takut ga bisa sayang sama baby numero 2 ini seperti gw sayang sama Miles. Waktu itu Miles kebetulan emang lagi umur2 yang adorable bener. Udah mulai mandiri tapi juga masih kiut manja gituloh pokoknya ngangenin deh (subyektif pisan haha). Rasanya sayang banget, sampe pernah ngobrol sama Marcel kita sepakat kalau kita berdua ga pernah sayang sama orang (or hal lain) sesayang kita sama Miles. Yes, sesayang itu. Apalagi selama trisemester pertama, hamil yang kedua ini rasanya beraat banget. Mual dan lemes parah, jauh lebih berat daripada waktu Miles yang gak berasa hamil. Jadi rasanya makin gimana gitu, udah ga kepingin, eh hamilnya menderita pula.

Fast forward setelah melahirkan juga gak yang gimana2 sama si baby (well honestly, waktu Miles lahir juga ga gimana2 sih huahahaha). Tapi sudah mulai naksir karena rambutnya lebih tebal dan hidungnya lebih mancung (mamak dangkal). Nenennya juga pinter banget dari hari pertama ga pernah ada masalah dan anaknya  kalem banget gak gampang nangis cuma suka grunting aja sepanjang hari.

Walaupun mukanya mirip banget, Miles dan adiknya keliatan beda sifat. Miles lebih observant, dia tipe yang lihat keadaan dulu, lebih hati-hati. Sementara baby numero 2 ini kelihatan lebih berani dan mandiri. Miles dari kecil uda keliatan susah menerima orang baru, sementara baby numero 2 gampang bener ketawa kalau diajak ngobrol sama siapa aja. Puji Tuhan di umur 2 bulan ini baby numero 2 juga uda bisa tidur sendiri through the night. Bener2 fuss free anaknya. Sementara Miles yang umur 2 tahunan dengan his endless energy and curiosity, sometimes drained our energy. But, they somehow stole our hearts in their own waysHari berganti hari, dan sekarang gw sayang banget sama baby numero 2. Sayang banget, sesayang gw sama Miles sampe amazed sendiri ternyata orang tua memang bisa sama sayangnya sama anak2nya. Ternyata ya, hati kita bisa tumbuh sebesar itu sampai bisa sayang saya dua anak ini, equally.



Baby numero 2, Morris Oliver, welcome to the world baby maw maw. I may not love you instantly but I love you more each day, unconditionally. 


akur-akur terus yaa sampai gede


Maw maw sebelum dibotakin. EMESH!

Maw maw setelah dibotakin. Tetap EMESH!!

Sunday, September 30, 2018

the day I break down and cry

Bombastis ya judulnya? Lebay sih, tapi itu yang saya rasakan hari ini.

Sejak pertama kali tahu saya hamil lagi, bukan kegembiraan yang pertama kali saya rasakan selayaknya orang hamil lainnya. Saya panik, saya takut. Secara finansial, kami jauh dari siap untuk punya anak kedua. Selain itu, saya tahu bahwa bulan September tahun ini adalah bulan yang berat untuk kami sekeluarga. Marcel akan melalui fase besar dalam usahanya. Dia perlu dukungan moril saya sepenuhnya. Sedangkan saya tidak siap harus mendukung dia 100% saat keadaan emosi saya  sendiri sedang dipermainkan hormon pasca melahirkan. Saya juga perlu dukungan karena secara psikologis saya lemah sekali. Belajar dari pengalaman melahirkan Miles sebelumnya, saya mengalami baby blues sampai pada satu titik terpikir untuk melempar Miles saja. Saya lelah, saya merasa hidup saya direnggut, saya merasa "dipaksa" melepaskan semua cita-cita dan ambisi saya dan menjadi sapi perah untuk Miles. Gila ya bisa berpikir seperti itu? Well, terserah anda. Tapi itu yang saya rasakan, saat itu, dulu.

Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Bulan demi bulan berlalu dan tibalah saat saya melahirkan. Sebelumnya saya persiapkan segalanya yang saya bisa demi menghindari baby blues. Saya cari 2 ART karena pikir saya, dulu saya baby blues karena terlalu capek dan kesepian. Saya juga sudah besarkan hati dari jauh-jauh hari bahwa tidak apa-apa Marcel fokus ke usahanya dulu. Toh itu juga untuk keluarga.

Sampai hari ini, saya meledak. Semua ketakutan yang saya bayangkan beberapa bulan lalu terjadi. Semua karena jahitan csect saya yang terbuka. Tidak besar, tapi mulai bernanah. Saya sedih karena merasa keadaan lah yang membuat ini semua terjadi. Saya takut luka ini harus dibuka dan dijahit lagi. Saya pun tiba-tiba kesal sekali dengan semuanya. Mengapa harus hamil tahun ini? Mengapa Marcel jarang menemani saya? Mengapa Miles susah sekali mengerti kalau saya belum boleh menggendong dia, apalagi sambil naik turun tangga? Lalu yang terakhir saya kesal dengan diri saya sendiri, mengapa saya bisa berpikir sekeji itu?

Tidak ada satupun dari anak saya yang minta dilahirkan kedunia. Saya yang membawa mereka kesini.  Marcel juga bukannya sengaja pulang malam setiap hari, saya tahu betul dia juga lelah dan ingin lebih sering ada di rumah. Tapi memang keadaan memaksa dan saat ini, semua itu belum bisa. Miles, saya paham betul apa yang dia rasakan. Dia takut kehilangan saya, dia mencari perhatian saya. Dan itu wajar, apalagi baru 2 tahun usianya.

Saya sendiri tidak tahu lagi harus bagaimana sekarang, cuma bisa berharap kalau menuliskan semuanya akan membuat saya merasa sedikit lega. Semoga. Karena suami dan anak-anak saya perlu istri dan mama mereka, segera.

Friday, July 20, 2018

Ketakutan

Tanpa terasa kehamilan saya sudah hampir memasuki bulan kedelapan. Bener-bener ga berasa lho, kalau dulu waktu hamil Miles tiap hari ngecekin Apps Pregnancy Plus, sekarang boro-boro, seminggu sekali aja kadang engga. Hihihi

Puji Tuhan, setelah drama mual-muntah-lemas-tak berdaya selama TM 1, kehamilan kedua ini terbilang cukup lancar dan tanpa kendala. Saking saya biasa saja, banyak orang yang nggak ngeh kalau saya lagi hamil. Baru beberapa hari ini beberapa orang yang papasan dengan saya berkomentar "Oh, lagi hamil lagi toh, kemarin kirain cuma gemukan aja". Oh well.


Tapi memang baru beberapa minggu ini saya "berasa hamil". I mean, dari dulu juga tau sihh lagi hamil. Cuma baru sekarang the reality kicks in kalau in a few weeks there will be an additional family member. Turning point-nya klo ga salah pas weeks ke 28, baca article dimanaaa gitu, trus ada kata-kata "the baby is ready to pop at anytime right now" OMG. I'm not ready!


Sebenernya, kalau soal barang-barang mungkin gausah pusing ya karena masih bisa pakai barang-barang Miles dulu. Ranjang, stroller, selimut, baju bedong semuanya masih bisa dipakai. Yang bikin saya stress adalah lebih ke pengalaman-pengalaman berat yang sudah saya lewati dengan Miles dulu harus saya ulang kembali dengan Baby No. 2 ini. Apa aja tuhh?

Nomor satu, operasi caesar. Waktu Miles dulu, saya keburu kontraksi (yang sakitnya setengah mati itu), jadi ketika disuntik epidural di tulang belakang, saya sudah ga berasa sakit sama sekali. Terus bekas jahitan operasi saya juga surprisingly masih manageable sakitnya. Bahkan saya sudah bisa pulang di hari ketiga. Nah, gimana kalau pas Baby No. 2 brojol, suntiknya dan bekas jahitnya sakit?? Atau lebih parahnya, gimana kalau saya sampai (amit-amit) meninggal saat operasi?? (oke, ini berlebihan, tapi tensi tinggi saat kontrol kemarin bener-bener bikin saya kepikiran takut pre-eclampsia). Marcel mana bisa ngurusin Miles, Baby No. 2, rumah dan bengkel sendiriaaannnnnn.

Okelah, itu lebay ya ga usah dipikirin. Terus lanjut ke drama menyusuinya, ketika air susu belom keluar trus tetikedi dipencet-pencet tanpa ampun sama suster. Atau ketika air susu udah keluar, tapi baby masih belajar latching. atau ketika dia sudah pintar latching, terus dia growth spurt sampe puting lecet parah. Atau ketika dia kolik dan nangis non stop sepanjang malam. Atau saat dia susaaaaah banget minum air putih, ga pup 6 hari. Atau sebaliknya, waktu dia pup dan muntah tak henti sampai harus dirawat di rumah sakit. Ya Tuhan, banyak sekali drama yang menanti di depan.


Please, please jangan sampai punya anggapan saya ga bersyukur dan ga sayang dengan Baby No. 2. Sebagai anak kedua, saya juga sadar kalau kadang orang tua suka ga sadar lebih sayang sama anak pertamanya. Kayak cinta pertama gitu kali ya. 

Baby No. 2 kalau nanti kamu besar lalu randomly menemukan blog mama yang absurd ini, please harus ingat mama sayang kalian berdua equally. Walaupun kamu tendang mama seharian dari siang di kantor sampai sudah baringan di ranjang. Mama senang sekali kamu aktif dan sehat. Kayaknya kamu lebih galak ya dari pada Koko Miles.

Cannot wait to meet you Baby No. 2. Kita jalanin sama-sama ya rentetan drama di depan. Jangan cuma berdua, Papa dan Koko Miles juga harus kita ikut sertakan. Mama gak mau bergadang sendirian.